Asal-usul Nama Desa Karang Jawa HSS: Dari “Pakarang Jawa” hingga Jejak Raden Kartawidana
Desa Karang Jawa berada di Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan. Secara astronomis, desa ini berada pada 2°47′22″ LS dan 115°17′30″ BT, atau sekitar -2.789358°, 115.291701°.
Di balik nama Karang Jawa, tersimpan sebuah kisah panjang tentang kedatangan orang-orang Jawa ke Tanah Banjar, percampuran budaya, perjuangan, serta perjalanan syiar Islam di wilayah Hulu Sungai.
Nama Karang Jawa diyakini berasal dari sebuah ungkapan “Pakarang Jawa”, yang dapat dimaknai sebagai “hasil perbuatan orang Jawa”.
Namun, bagaimana sebenarnya nama tersebut muncul dan siapa sosok yang berada di balik kisahnya?
Awal Kedatangan Pasukan dari Jawa
Kisah ini bermula pada masa Raden Samudera ketika berhadapan dengan pamannya, Pangeran Tumenggung. Dalam menghadapi peperangan tersebut, Raden Samudera meminta bantuan kepada Kesultanan Demak.
Setelah perjuangan itu selesai, sebagian pasukan dari Jawa yang sebelumnya datang untuk membantu kemudian memilih untuk tetap tinggal di Tanah Banjar.
Salah satu di antara mereka adalah Raden Kartawidana, seorang laskar yang disebut berasal dari Sumedang, tanah Jawa. Raden Kartawidana tentu bukan orang biasa. Beliau masih memiliki hubungan dengan keluarga besar Kesultanan Banjar dan dikenal sebagai murid dari Sunan Gunung Jati, salah seorang ulama besar penyebar Islam di tanah Jawa.
Kedatangannya ke wilayah Hulu Sungai kemudian membawa pengaruh yang cukup besar, tidak hanya dalam kehidupan keagamaan, tetapi juga dalam hubungan sosial dan kebudayaan masyarakat setempat.
Raden Kartawidana dan Syiar Islam
Dalam perjalanan dakwahnya, Raden Kartawidana menggunakan pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Salah satu cara yang digunakan adalah melalui pertunjukan wayang kulit, sebagaimana pendekatan dakwah yang pernah dilakukan oleh Sunan Kalijaga di tanah Jawa. Wayang bukan hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi sarana untuk menyampaikan pesan-pesan kehidupan dan ajaran Islam. Masyarakat yang awalnya datang karena rasa penasaran dan ingin menikmati pertunjukan, perlahan mulai mengenal ajaran yang disampaikan.
![]() |
| Jl. Kertawidana, Desa Karang Jawa Muka |
Dakwah dilakukan dengan cara yang halus, tidak memaksa, dan tetap menghargai budaya masyarakat setempat. Dari sinilah pengaruh Raden Kartawidana semakin berkembang di wilayah Hulu Sungai.
Pertemuan dengan Putri Seorang Raja
Dalam perjalanannya, Raden Kartawidana bersama rombongannya menyusuri sungai menggunakan perahu. Di tengah perjalanan tersebut, mereka menemukan seorang perempuan bernama Ciptasari, yang dalam kisah masyarakat disebut sebagai seorang putri raja.
Pada saat itu, Ciptasari sedang berada dalam pengasingan karena menderita penyakit kudung atau kusta. Penyakit tersebut membuat dirinya dijauhkan dari lingkungan masyarakat.
Melihat keadaan tersebut, Raden Kartawidana kemudian berusaha menolong dan mengobati Ciptasari. Atas usaha tersebut Ciptasari akhirnya sembuh dari penyakitnya.
Peristiwa tersebut kemudian membuat masyarakat semakin menghormati Raden Kartawidana. Sebagai bentuk penghargaan sekaligus ikatan antara kedua pihak, Raden Kartawidana kemudian dinikahkan dengan Putri Ciptasari.
Dari pernikahan tersebut, terjadi proses asimilasi antara pendatang dari Jawa dengan masyarakat asli di wilayah tersebut. Pertemuan dua latar belakang inilah yang kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah masyarakat di kawasan tersebut.
Jejak Nama Sungai Kudung
Kisah tentang Putri Ciptasari juga dipercaya memiliki kaitan dengan salah satu nama tempat di wilayah tersebut.
Lokasi ketika Ciptasari ditemukan dan kemudian ditolong oleh Raden Kartawidana dikaitkan dengan Sungai Kudung. Nama tersebut dipercaya berkaitan dengan penyakit yang pada waktu itu diderita oleh Ciptasari.
Kisah seperti ini menjadi bagian dari ingatan masyarakat dan menunjukkan bagaimana sejarah, tokoh, serta kondisi suatu tempat sering kali saling berkaitan dalam pembentukan nama-nama wilayah di Tanah Banjar.
![]() |
| Gapura Desa Karang Jawa, Padang Batung |
Lahirnya Nama “Karang Jawa”
Setelah menetap di wilayah tersebut, Raden Kartawidana bersama rombongannya kemudian mendirikan sebuah perkampungan baru.
Letaknya tidak jauh dari pemukiman masyarakat asli. Kehadiran orang-orang Jawa membawa warna baru dalam kehidupan masyarakat, baik dari sisi budaya, kebiasaan, maupun kehidupan keagamaan.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai menyebut perkampungan tersebut dengan nama “Karang Jawa”.
Nama ini diyakini berasal dari ungkapan “Pakarang Jawa”, yang dapat dimaknai sebagai hasil perbuatan atau hasil karya orang Jawa.
Penyebutan tersebut kemudian melekat dari generasi ke generasi hingga akhirnya menjadi nama wilayah yang dikenal sebagai Desa Karang Jawa.
Nama tersebut bukan sekadar penanda sebuah tempat, tetapi juga menjadi pengingat akan keberadaan masyarakat Jawa yang pernah datang, menetap, dan kemudian menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banjar.
Karang Jawa: Pertemuan Dua Budaya
Jika melihat perjalanan kisahnya, Karang Jawa bukan hanya berbicara tentang sebuah nama desa.
Di dalamnya terdapat cerita tentang perjalanan orang-orang Jawa menuju Tanah Banjar, hubungan dengan Kesultanan Banjar, perjuangan, syiar Islam, serta pertemuan antara masyarakat pendatang dan masyarakat asli.
Pernikahan Raden Kartawidana dengan Putri Ciptasari menjadi salah satu gambaran bagaimana dua latar belakang masyarakat kemudian bertemu dan membentuk kehidupan baru.
Budaya Jawa dan budaya Banjar pun secara perlahan saling berbaur. Jejak tersebut kemudian menjadi bagian dari identitas masyarakat Karang Jawa hingga sekarang.
Desa Karang Jawa Sekarang
Kini, Desa Karang Jawa menjadi bagian dari Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.
Perjalanan waktu tentu telah membawa banyak perubahan. Perkampungan yang dahulu menjadi tempat bermukimnya rombongan dari Jawa kini telah berkembang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern.
Namun, sebuah nama tetap menyimpan cerita.
Karang Jawa menjadi pengingat tentang bagaimana sebuah perkampungan tumbuh dari pertemuan dua latar belakang masyarakat yang berbeda. Tentang orang-orang Jawa yang datang ke Tanah Banjar, tentang Raden Kartawidana dan Putri Ciptasari, serta tentang proses panjang asimilasi budaya dan kehidupan masyarakat.
Dari ungkapan “Pakarang Jawa”, sebuah nama kemudian tumbuh dan bertahan hingga hari ini. Dan mungkin, di balik sebuah nama desa yang sederhana, selalu ada cerita panjang yang layak untuk dikenang.
Karang Jawa bukan hanya sebuah nama tempat. Ia adalah jejak perjalanan sejarah, pertemuan budaya, dan warisan cerita yang terus hidup di tengah masyarakat Hulu Sungai Selatan.
Referensi: Buku Cerita Rakyat Kalimantan Selatan - Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, radarbanjarmasin, ejournal - Badan Arkeologi Kalimantan Selatan.
____________________________________________
Hak Cipta: Tulisan di kardilot.com dilindungi hak cipta. Jika mengutip atau menggunakan sebagian isi, harap mencantumkan sumber dan link artikel asli. Dilarang menyalin seluruh isi tanpa izin.



"Seorang Pemuda yang tinggal di Indonesia, yang sedang memperkenalkan keragaman negeri ini beserta seisinya."
0 comments
Terimakasih sudah mampir untuk membaca dan memberikan pesan, semoga bermanfaat, salam