Rabu, 23 September 2026

Mengenal Nama-Nama Desa di Kalimantan Selatan dari Bahasa Banjar

 

Nama sebuah desa tidak hanya berfungsi sebagai penanda wilayah, tetapi juga dapat menyimpan informasi mengenai bahasa, budaya, lingkungan, serta sejarah masyarakat setempat. Di Kalimantan Selatan, sejumlah nama desa menggunakan bahasa Banjar dan memiliki bentuk kebahasaan yang beragam.
Berdasarkan struktur kebahasaannya, nama-nama desa tersebut dapat berupa kata dasar, kata berprefiks, kata bersufiks, maupun kata majemuk. Kata majemuknya juga memiliki berbagai pola, seperti nomina + nomina, nomina + adjektiva, nomina + adverbia, hingga nomina + verba.
Berikut daftar nama desa berbahasa Banjar berdasarkan struktur kebahasaannya.

1. Nama Desa Berbentuk Kata Dasar


No

Nama Desa

Kelas Kata

Prefiks/Sufiks

Makna

1

Tungkaran

Nomina

–

Tempat pangkalan perahu

2

Longawang

Nomina

–

Pohon di sungai kecil

3

Paya

Nomina

–

Nama pohon rumbia

4

Kumpai

Nomina

–

Rumput

5

Tanggui

Nomina

–

Topi dari daun pandan

6

Janggitan (Ambutun)

Nomina

–

Nama makhluk gaib

7

Guntung

Nomina

–

Anak sungai

8

Tarjun

Nomina

–

Tempat perlindungan

9

Pinai

Nomina

–

Cobek

10

Kalumpang

Nomina

–

Sandal

11

Lambuk

Verba

–

Tumbuk

12

Bi'ih

Nomina

–

Banjir

13

Kuripan

Nomina

–

Nama ratu

14

Binturu

Nomina

–

Nama pohon

15

Bungur

Nomina

–

Nama pohon

2. Nama Desa dengan Prefiks

Beberapa nama desa terbentuk dari kata dasar yang mendapat prefiks (awalan).

No

Nama Desa

Kata Dasar

Prefiks

Kelas Kata

Makna

16

Belawang

Nomina

ba-

Nomina

Pintu

17

Barikin

Verba

ba-

Verba

Hitung

18

Baliuk

Verba

ba-

Verba

Berputar

19

Tapaling

Verba

ta-

Verba

Balik, putar

Rabu, 02 September 2026

Asal-usul Nama Desa Karang Jawa HSS: Dari “Pakarang Jawa” hingga Jejak Raden Kartawidana

Desa Karang Jawa berada di Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan. Secara astronomis, desa ini berada pada 2°47′22″ LS dan 115°17′30″ BT, atau sekitar -2.789358°, 115.291701°.

Di balik nama Karang Jawa, tersimpan sebuah kisah panjang tentang kedatangan orang-orang Jawa ke Tanah Banjar, percampuran budaya, perjuangan, serta perjalanan syiar Islam di wilayah Hulu Sungai.

Nama Karang Jawa diyakini berasal dari sebuah ungkapan “Pakarang Jawa”, yang dapat dimaknai sebagai “hasil perbuatan orang Jawa”.

Namun, bagaimana sebenarnya nama tersebut muncul dan siapa sosok yang berada di balik kisahnya?

Awal Kedatangan Pasukan dari Jawa

Kisah ini bermula pada masa Raden Samudera ketika berhadapan dengan pamannya, Pangeran Tumenggung. Dalam menghadapi peperangan tersebut, Raden Samudera meminta bantuan kepada Kesultanan Demak.

Setelah perjuangan itu selesai, sebagian pasukan dari Jawa yang sebelumnya datang untuk membantu kemudian memilih untuk tetap tinggal di Tanah Banjar.

Salah satu di antara mereka adalah Raden Kartawidana, seorang laskar yang disebut berasal dari Sumedang, tanah Jawa. Raden Kartawidana tentu bukan orang biasa. Beliau masih memiliki hubungan dengan keluarga besar Kesultanan Banjar dan dikenal sebagai murid dari Sunan Gunung Jati, salah seorang ulama besar penyebar Islam di tanah Jawa.

Kedatangannya ke wilayah Hulu Sungai kemudian membawa pengaruh yang cukup besar, tidak hanya dalam kehidupan keagamaan, tetapi juga dalam hubungan sosial dan kebudayaan masyarakat setempat.

Raden Kartawidana dan Syiar Islam

Dalam perjalanan dakwahnya, Raden Kartawidana menggunakan pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Salah satu cara yang digunakan adalah melalui pertunjukan wayang kulit, sebagaimana pendekatan dakwah yang pernah dilakukan oleh Sunan Kalijaga di tanah Jawa. Wayang bukan hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi sarana untuk menyampaikan pesan-pesan kehidupan dan ajaran Islam. Masyarakat yang awalnya datang karena rasa penasaran dan ingin menikmati pertunjukan, perlahan mulai mengenal ajaran yang disampaikan.

Jl. Kertawidana, Desa Karang Jawa Muka

Dakwah dilakukan dengan cara yang halus, tidak memaksa, dan tetap menghargai budaya masyarakat setempat. Dari sinilah pengaruh Raden Kartawidana semakin berkembang di wilayah Hulu Sungai.

Pertemuan dengan Putri Seorang Raja

Dalam perjalanannya, Raden Kartawidana bersama rombongannya menyusuri sungai menggunakan perahu. Di tengah perjalanan tersebut, mereka menemukan seorang perempuan bernama Ciptasari, yang dalam kisah masyarakat disebut sebagai seorang putri raja.

Pada saat itu, Ciptasari sedang berada dalam pengasingan karena menderita penyakit kudung atau kusta. Penyakit tersebut membuat dirinya dijauhkan dari lingkungan masyarakat.

Melihat keadaan tersebut, Raden Kartawidana kemudian berusaha menolong dan mengobati Ciptasari. Atas usaha tersebut Ciptasari akhirnya sembuh dari penyakitnya.

Peristiwa tersebut kemudian membuat masyarakat semakin menghormati Raden Kartawidana. Sebagai bentuk penghargaan sekaligus ikatan antara kedua pihak, Raden Kartawidana kemudian dinikahkan dengan Putri Ciptasari.

Dari pernikahan tersebut, terjadi proses asimilasi antara pendatang dari Jawa dengan masyarakat asli di wilayah tersebut. Pertemuan dua latar belakang inilah yang kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah masyarakat di kawasan tersebut.

Jejak Nama Sungai Kudung

Kisah tentang Putri Ciptasari juga dipercaya memiliki kaitan dengan salah satu nama tempat di wilayah tersebut.

Lokasi ketika Ciptasari ditemukan dan kemudian ditolong oleh Raden Kartawidana dikaitkan dengan Sungai Kudung. Nama tersebut dipercaya berkaitan dengan penyakit yang pada waktu itu diderita oleh Ciptasari.

Kisah seperti ini menjadi bagian dari ingatan masyarakat dan menunjukkan bagaimana sejarah, tokoh, serta kondisi suatu tempat sering kali saling berkaitan dalam pembentukan nama-nama wilayah di Tanah Banjar.

Gapura Desa Karang Jawa, Padang Batung

Lahirnya Nama “Karang Jawa”

Setelah menetap di wilayah tersebut, Raden Kartawidana bersama rombongannya kemudian mendirikan sebuah perkampungan baru.

Letaknya tidak jauh dari pemukiman masyarakat asli. Kehadiran orang-orang Jawa membawa warna baru dalam kehidupan masyarakat, baik dari sisi budaya, kebiasaan, maupun kehidupan keagamaan.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai menyebut perkampungan tersebut dengan nama “Karang Jawa”.

Nama ini diyakini berasal dari ungkapan “Pakarang Jawa”, yang dapat dimaknai sebagai hasil perbuatan atau hasil karya orang Jawa.

Penyebutan tersebut kemudian melekat dari generasi ke generasi hingga akhirnya menjadi nama wilayah yang dikenal sebagai Desa Karang Jawa.

Nama tersebut bukan sekadar penanda sebuah tempat, tetapi juga menjadi pengingat akan keberadaan masyarakat Jawa yang pernah datang, menetap, dan kemudian menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banjar.

Karang Jawa: Pertemuan Dua Budaya

Jika melihat perjalanan kisahnya, Karang Jawa bukan hanya berbicara tentang sebuah nama desa.

Di dalamnya terdapat cerita tentang perjalanan orang-orang Jawa menuju Tanah Banjar, hubungan dengan Kesultanan Banjar, perjuangan, syiar Islam, serta pertemuan antara masyarakat pendatang dan masyarakat asli.

Pernikahan Raden Kartawidana dengan Putri Ciptasari menjadi salah satu gambaran bagaimana dua latar belakang masyarakat kemudian bertemu dan membentuk kehidupan baru.

Budaya Jawa dan budaya Banjar pun secara perlahan saling berbaur. Jejak tersebut kemudian menjadi bagian dari identitas masyarakat Karang Jawa hingga sekarang.

Desa Karang Jawa Sekarang

Kini, Desa Karang Jawa menjadi bagian dari Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.

Perjalanan waktu tentu telah membawa banyak perubahan. Perkampungan yang dahulu menjadi tempat bermukimnya rombongan dari Jawa kini telah berkembang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern.

Namun, sebuah nama tetap menyimpan cerita.

Karang Jawa menjadi pengingat tentang bagaimana sebuah perkampungan tumbuh dari pertemuan dua latar belakang masyarakat yang berbeda. Tentang orang-orang Jawa yang datang ke Tanah Banjar, tentang Raden Kartawidana dan Putri Ciptasari, serta tentang proses panjang asimilasi budaya dan kehidupan masyarakat.

Dari ungkapan “Pakarang Jawa”, sebuah nama kemudian tumbuh dan bertahan hingga hari ini. Dan mungkin, di balik sebuah nama desa yang sederhana, selalu ada cerita panjang yang layak untuk dikenang.

Karang Jawa bukan hanya sebuah nama tempat. Ia adalah jejak perjalanan sejarah, pertemuan budaya, dan warisan cerita yang terus hidup di tengah masyarakat Hulu Sungai Selatan.

Referensi: Buku Cerita Rakyat Kalimantan Selatan - Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, radarbanjarmasin, ejournal - Badan Arkeologi Kalimantan Selatan.


____________________________________________

Hak Cipta: Tulisan di kardilot.com dilindungi hak cipta. Jika mengutip atau menggunakan sebagian isi, harap mencantumkan sumber dan link artikel asli. Dilarang menyalin seluruh isi tanpa izin.

Senin, 31 Agustus 2026

Di Balik Dinding Tua: Menelusuri Rumah Perjuangan ALRI Divisi IV di Hulu Sungai Selatan

Banyak dari kita tentunya belum mengenal Rumah Perjuangan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) Divisi IV yang berada di Jl. Brigjend. H. Hasan Basry, Desa Karang Jawa Muka, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.

Bukan sekadar rumah tua belaka. Di balik dinding dan kayunya tersimpan cerita tentang keberanian, perlawanan, dan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di tanah Kalimantan Selatan. Dengan kesederhanaan yang dimiliki bangunan ini, belum kita temui teknologi canggih, mungkin juga tidak ada sesuatu yang secara kasat mata terlihat istimewa.

Namun, tempat seperti inilah pada masanya para pejuang berkumpul, berdiskusi, menyusun strategi, hingga mengambil keputusan dalam situasi yang tentu jauh dari kata aman.

Ketika kita berdiri tepat di depan bangunan ini, banyak pertanyaan yang terlintas dalam pikiran. “Bangunan ini sudah berapa lama berdiri?” Bukan hanya itu, tetapi juga: “Ada cerita apa di balik bangunan yang sudah berdiri cukup lama ini?”

Bumi Kalimantan Pasca-Proklamasi: Perjuangan Belum Selesai

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, perjuangan ternyata belum sepenuhnya berakhir. Di berbagai daerah, termasuk Kalimantan Selatan, kekuasaan penjajahan Belanda masih menjadi persoalan. Para pejuang kita pada masa itu harus mempertahankan prinsip dan gagasan bahwa Kalimantan Selatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Republik Indonesia.

Tulisan pada prasasti adalah sebagai berikut:

Karang Djawa

Di sini pada tanggal 2 September 1949. Sehabis pertemoean di Moenggoe Raja, diadakan ramah tamah antara delegasi Pemerintah RI, yaitu Djendral Mayor Soehardjo Hardjowardojo, Kapten Zainal Abidin (Angkatan Darat), dan Kapten Boediardjo (Angkatan Uedara); Delegasi Pemerintah Belanda: Resident A. G. Deelman dan Overste Veenendal; Delegasi Komisi Tiga Negara: Colonel Neals (UNCI); dengan tokoh-tokoh ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan di bawah pimpinan Letnan Kolonel Hassan Basry.

Dalam situasi tersebut, perjuangan tidak hanya dilakukan melalui pertempuran terbuka. Gerakan bawah tanah, komunikasi antar kelompok, pengumpulan informasi, perundingan rahasia, hingga pengorganisasian masyarakat menjadi bagian penting dari perjuangan.

Salah satu kekuatan yang kemudian memainkan peran penting adalah ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan.

Dalam sejarah perjuangan Bumi Lambung Mangkurat, nama Hassan Basry tidak dapat dipisahkan dari perjalanan organisasi tersebut. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, khususnya di Kalimantan Selatan.

Perjuangan Hasan Basry bersama tokoh lainnya berlangsung dalam kondisi yang sangat sulit. Para pejuang harus bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya dengan memanfaatkan kondisi geografis daerah tersebut dengan baik, termasuk kawasan pedalaman dan Pegunungan Meratus.

Dalam situasi seperti itu, rumah-rumah masyarakat pada masa tersebut juga dapat beralih fungsi menjadi tempat penting untuk mendukung perjuangan. Salah satunya berada di wilayah Kandangan.

Rumah Berubah Menjadi Tempat Perjuangan

Pada masa perjuangan, rumah masyarakat juga dapat memiliki peran penting. Salah satunya adalah rumah yang sekarang dikenal sebagai Rumah Perjuangan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan di Karang Jawa Muka.

Rumah ini diketahui merupakan milik H. Kaspul Anwar. Setelah Indonesia merdeka, rumah tersebut digunakan sebagai tempat yang berkaitan dengan perjuangan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan.

Rumah yang awalnya merupakan tempat tinggal kemudian menjadi bagian dari aktivitas perjuangan pada masa tersebut. Di tempat seperti inilah para pejuang dapat melakukan pertemuan, berkomunikasi, menyusun rencana, dan melakukan berbagai kegiatan yang mendukung perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Rumah Perjuangan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan

Rumah Perjuangan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan di Desa Karang Jawa Muka, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Bangunan yang kita lihat sekarang masih mempertahankan bentuk rumah lama dengan material utama berupa kayu. Dinding, pintu, jendela, hingga bagian atap menunjukkan karakter bangunan tradisional yang sudah berusia cukup lama.

Pada bagian depan rumah juga terdapat papan informasi yang menjelaskan status bangunan sebagai cagar budaya yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Keberadaan papan tersebut menjadi salah satu penanda bahwa bangunan ini memiliki nilai sejarah dan perlu mendapatkan perhatian dalam pelestariannya.

Melihat Kondisi Rumah Saat Ini

Dari bagian depan, rumah ini terlihat berada di lingkungan yang masih cukup asri. Pepohonan dan tanaman tumbuh di sekitar bangunan.

Tampak depan Rumah Perjuangan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan di Karang Jawa Muka.
Kondisi rumah memang sudah tidak seperti bangunan baru. Beberapa bagian kayu terlihat mengalami perubahan akibat usia dan cuaca. Namun, bentuk utama bangunan masih dapat dilihat dengan cukup jelas.

Bagi masyarakat yang tertarik dengan sejarah lokal, tempat ini menarik untuk dikunjungi karena kita dapat melihat secara langsung salah satu bangunan yang memiliki hubungan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan di Kalimantan Selatan.

Lalu mengapa rumah ini begitu penting?

Menurut saya, hal menarik dari tempat ini adalah kita dapat melihat sejarah dalam bentuk yang nyata. Selama ini kita lebih sering mengenal sejarah melalui buku, foto, museum, atau cerita dari orang lain. Dengan mengunjungi situs seperti ini, kita dapat melihat langsung tempat yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah tersebut.

Rumah ini juga menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya terjadi di medan pertempuran. Masyarakat dan berbagai tempat di sekitar mereka juga memiliki peran dalam mendukung perjuangan. Karena itu, keberadaan situs seperti Rumah Perjuangan ALRI Divisi IV penting untuk tetap dijaga dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

Menjaga Sejarah di Daerah

Sejarah Indonesia tidak hanya berada di kota-kota besar atau di museum. Di berbagai daerah masih terdapat rumah, bangunan, monumen, makam, dan tempat-tempat lain yang memiliki cerita tentang perjuangan bangsa. Rumah Perjuangan ALRI Divisi IV di Karang Jawa Muka merupakan salah satunya.

Mengenal tempat seperti ini juga menjadi salah satu cara untuk mengenal sejarah daerah kita sendiri. Bukan hanya mengetahui nama tokoh atau tahun kejadiannya, tetapi juga memahami bahwa masyarakat di daerah memiliki bagian dalam perjalanan panjang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Mengunjungi Rumah Perjuangan ALRI Divisi IV di Karang Jawa Muka menjadi pengalaman yang menarik bagi saya. Bangunannya memang sederhana dan terlihat seperti rumah lama pada umumnya. Namun, tempat ini memiliki nilai sejarah yang membuatnya berbeda.

Keberadaan rumah ini mengingatkan kita bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga terjadi di Kalimantan Selatan dan melibatkan banyak pihak. Semoga situs seperti ini tetap terawat dan semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang mengetahui keberadaannya.

Karena mengenal sejarah tidak harus selalu dimulai dari buku. Terkadang, kita bisa memulainya dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang ada di sekitar kita.